Pondok Cabe, Tangsel, 1/2/2010 (Kominfo-Newsroom) - Rektor Universitas Terbuka (UT) Prof Tian Belawati, ME.d P.hD mengatakan, Ibu Negara Ani Susilo Bambang Yudhoyono ádalah salah satu lulusan UT Tahun 1998.
Ketika berbicara di hadapan 200 pengurus dan anggota Kowani dari seluruh Indonesia dalam acara penandatanganan MoU antara UT dan Kowani di Gedung Serba Guna, Kantor UT, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Senin (1/2), Prof Tian bercerita tentang isi pidato Presiden Yudhoyono tentang istrinya yang menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik UT.
“Sewaktu pertemuan dengan gubernur dari seluruh Indonesia, Pak Presiden SBY mengatakan bahwa istri beliau, Ibu Ani, adalah ‘SIPUT’, yaitu Sarjana Ilmu Politik Universitas Terbuka,” katanya.
Menurutnya, saat itu Presiden SBY bercerita, sewaktu masih berpangkat kolonel, Ibu Ani tidak sempat membuatkan kopi karena sibuk belajar (bahan ajar UT).
Sementara itu Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr Dewi Motik Pramono, MSi mengaku memuji Rektor UT yang menurutnya merupakan wanita cerdas dan mandiri serta bisa dijadikan contoh wanita berprestasi.
“Jadi hari ini saya ingin memberi gelar kepada Rektor UT sebuah gelar ‘Napoleon Wati Bonaparti’. Ibu Prof Tian ini imut-imut. kecil mungil, tapi ya Allah, ketika beliau berbicara, semua yang hadir terpesona dan menyimak dengan serius. Saya bersyukur dan bangga, berkat Ibu Rektor UT, banyak ibu-ibu ingin kuliah lagi,” katanya.
Dikemukakan bahwa ia sangat setuju dengan pendapat Rektor UT bahwa untuk belajar dan kuliah, tidak ada halangan usia.
“Mau usia 92 tahun, 80 tahun, menteri, bupati, lurah, siapapun berhak melanjutkan sekolah dan kuliah di UT, dan juga tidak ada hambatan waktu untuk kuliah,” katanya.
Menurut Dewi Motik, kalau melihat Buku Biru UT, maka sistem belajar di UT bisa sambil masak, mencuci, sambil ngobrol atau sambil menyusui anak. Sistem belajarnya sangat sederhana, petunjuknya jelas, dengan memanfaatkan teknologi canggih dan teknologi sederhana berupa modul.
“Karena itu tidak ada alasan sudah tua atau sangat sibuk untuk belajar di UT. Ibu Ani Yudhoyono adalah contohnya. Beliau tetap belajar meski sibuk mendampingi Pak SBY,” katanya.
Contoh lain, katanya, adalah Ibu Linda Agum Gumelar, yang tetap belajar meski suaminya seorang jenderal.
“Sekolah di UT sangat praktis. Mau belajar dua tahun tamat atau mau lebih lama lagi, tidak apa-apa, sangat fleksibel, apalagi biayanya murah, hanya Rp 20.000/SKS, belum lagi banyaknya pilihan jurusan,” katanya.
Dikemukakan, banyak tokoh-tokoh dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), istri-istri dokter, istri anggota Bhayangkari, istri tentara, semuanya tertarik kuliah di UT.
UT, menurutnya, sangat tepat bagi kaum wanita, termasuk aktifis perempuan untuk meningkatkan kualitas, wawasan dan pendidikannya, sehingga lebih terbuka bagi kaum wanita untuk lebih mandiri dan percaya diri.
“Seorang aktifis perempuan itu paling tidak harus S1, karena tanpa pendidikan formal, akan sulit untuk bisa mandiri, apalagi bisa mendorong kemajuan bagi kaum perempuan. Menurut saya, bagi kaum wanita yang ingin maju, yang mau bersaing, caranya harus mampu mengadu ilmu dan otak. Sulit berkarya apabila tidak didukung pendidikan,” katanya. (Ad/ysoel)