Jakarta, 2/8/2007 (Kominfo-Newsroom) – Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bersama perusahaan IOA Jepang bekerjasama mengolah air laut di kedalaman hingga 500 meter untuk dijadikan air minum mineral, selain untuk keperluan lainnya termasuk bahan baku industri kosmetik.
Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Ir. Indroyono Soesilo di Jakarta, Kamis (2/8) mengatakan, selain untuk air minum, air laut dalam tersebut juga digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik dan untuk pembudidayaan ikan.
Pengolahan air laut dalam yang sudah berjalan baru di Bali Utara dengan investasi dari Jepang sebesar Rp5 miliar ini dalam waktu dekat akan dikembangkan pula di daerah-daerah lain, seperti di Pantai Pelabuhan Ratu Jawa Barat, Yogyakarta, Makassar, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
“Pabrik pengolahan berada di pinggir tebing pantai karena pinggir tebing dekat dengan kedalaman laut hingga mencapai 350 meter dan untuk menghemat pemakaian pipa penyedot air dengan panjang sekitar 500 meter,” katanya.
Sedangkan mengenai pembudidayaan ikan masih dalam penelitian, dan apabila berkembang dengan baik maka akan sangat membantu budidaya ikan tersebut. Ikan yang dibudidayakan ialah ikan kerapu, ikan tuna, udang dan jenis ikan lainnya.
Indroyono menjelaskan, DKP juga mengembangkan budidaya ikan lumba-lumba (dolphin), karena dolphin ini sangat berguna untuk membantu pengobatan penyakit autis dan strook.
Disamping itu juga dolphin harganya sangat mahal, dengan harga anak dolphin yang sudah dilatih dihargai Rp5 juta, sedangkan yang sudah besar dan sudah dilatih senilai Rp 2 miliar.
Menurutnya, dengan harga yang tinggi ini diharapkan banyak pengusaha yang tertarik untuk membudidayakan dolphin dengan tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Untuk terapi dolphin di Indonesia dibutuhkan biaya sebesar RP 40 juta, sedangkan di Amerika sekitar Rp 400 juta. “Karena kegunaan dolphin ini cukup menguntungkan tidak heran banyak pengusaha yang akan investasi di budidaya ini,” jelasnya.
Indroyono menambahkan, selama ini kehidupan ldolphin sangat terancamg karena kebanyakan nelayan dalam menangkap ikan menggunakan bom dan jarring, hal ini sangat membahayakan habitat dan kehidupannya, katanya. (T.Bhr/Kus/toeb/c)