Kirim Berita

DKI KEMBANGKAN TRANSPORTASI MASSAL GUNA MINIMALISIR KEMACETAN

            Jakarta, 6/2/2010 (Kominfo-Newsroom) – Pemerintah Provinsi  DKI Jakarta mengaku akan terus mengembangkan transportasi massal dalam 10 tahun ke depan sebagai upaya meminimalisir tingkat kemacetan lalu-lintas di Ibukota yang semakin kompleks.

            Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, hingga saat ini permasalahan kemacetan di Jakarta belum dapat terselesaikan, bahkan dirasa kian hari kian meningkat yang kemudian berdampak pada kerugian – kerugian baik ekonomi, waktu, kesehatan masyarakat juga psikologis.
            “Kemacetan lalu-lintas di Jakarta ini merupakan masalah besar. Untuk itu kami (Pemprov DKI) terus mencari solusi untuk menekan itu, diantaranya tetap fokus untuk mengembangkan transportasi massal,” kata Gubernur pada acara Aksi Peduli Keselamatan Lalu Lintas di Taman lalu-lintas, Cibubur, Jakarta, Sabtu (6/2).
            Dijelaskan Fauzi Bowo, dalam menekan kemacetan pihaknya akan terus mengembangkan moda transportasi, baik yang sudah berjalan maupun yang sedang dalam perencanaan.
            Busway (transjakarta) akan terus diperluas, nantinya ke Bekasi dan Tangerang. Selain itu, juga akan dikembangkan kendaraan massal berbasis rel, sementara kereta api akan direvitalisasi, juga kereta bawah tanah.
            Diakui Gubernur, untuk membebaskan Jakarta dari “penyakit” macet memang sangat sulit dilakukan, karena sesuai fakta saat ini bertambahnya kendaraan baik roda empat maupun roda dua di DKI Jakarta dan Sekitarnya mencapai 9,5 persen.
            “Ini juga salah satu penyebab kemacetan di Jakarta semakin menjadi dan sulit untuk dikendalikan, sementara di sisi lain pemerintah masih kesulitan menambah atau membangun infrastruktur jalan. Intinya belum ada keseimbangan, sehingga jalan belum dapat menampung banyaknya kendaraan,” katanya.
            Kemudian, selain infrastruktur jalan dan jumlah kendaraan, tingkat kesadaraan tertib berlalu-lintas, baik pengendara kendaraan maupun masyarakat umum lainnya, juga dinilai masih lemah yang juga berdampak pada kemacetan.
            “Faktor utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan tertib lalu-lintas. Pengendara kendaraan juga masyarakat umum, misalnya berdagang dipinggiran jalan, ini kan membuat lajur jalan menjadi sempit, akhirnya macet lagi,” ujarnya.
            Untuk kedepan, kata Fauzi Bowo, ada baiknya jika dilakukan pembatasan penggunaan kendaraan di wilayah tertentu sehingga akan terjadi keseimbangan antara jalan dengan jumlah kendaraan. (T.Ty/toeb)

 


<<< Kembali ke halaman sebelumnya 
 
   COPYRIGHT� 2005 DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA, BADAN INFORMASI PUBLIK