|
LEBIH DARI 70 PERSEN PENYAKIT INFEKSI BARU MUNCUL DARI HEWAN Jakarta, 8/2/2010 (Kominfo-Newsroom) - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, penyakit pada hewan (penyakit zoonoza) ditenggarai menjadi sumber lebih dari 70% dari semua penyakit infeksi yang baru muncul.
Menurut Menkes, Indonesia memiliki beban ganda penyakit yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular yang baru muncul (new emerging diseases) berdampak besar terhadap kesehatan manusia dan menimbulkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu perlu dibuat suatu program “Peternak Sehat Ternak Sehat” agar peternak maupun ternak yang dihasilkannya lebih sehat dan tidak menularkan penyakit, katanya saat pencanangan program Peternakan Sehat bersama Menteri Pertanian, Suswono, di depan peternak Desa Tenjolaya, Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, seperti yang dikutip dalam keterangannya di Jakarta, Senin (8/2). Menkes mengatakan, tujuan program yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan produktivitas ternak di desa Tenjolaya serta mengentaskan kemiskinan melalui model kegiatan keterpaduan program kesehatan dan pertanian. Kegiatan program mencakup upaya kesehatan masyarakat termasuk penyehatan lingkungan dan kesehatan hewan. Program kesehatan masyarakat, meliputi promosi kebersihan perorangan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS); deteksi dini dan respon pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Sementara upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat (UKBM) melalui Poskesdes, Posyandu, Poskestren dan Pos Upaya Kesehatan Kerja; rujukan dari UKBM ke Puskesmas Pembantu dan/Puskesmas, RS; Jamkesmas; Penyehatan lingkungan; serta Penyelamatan aspek biologi (biosafety). Adapun program kesehatan hewan meliputi, promosi kesehatan masyarakat veteriner; deteksi dini dan respon pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah; rujukan dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan laboratorium tipe C ke tipe B/ tipe A dan RS; pelaksanaan beternak yang baik, penataan wilayah usaha peternakan unggas (zonasi), pembinaan budidaya ternak unggas di pedesaan; pengelolaan panen & pasca panen; serta biosekuriti. Pada Agustus 2003, untuk pertama kalinya virus H5N1 (Flu Burung) dideteksi pada ternak unggas di Indonesia. Pada Juli 2005, untuk pertama kali infeksi subtipe H5N1 dikonfirmasi pada manusia. Sejak itu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Flu Burung pada manusia tertinggi di dunia. Sementara di tingkat nasional jumlah provinsi endemik Flu Burung pada hewan unggas meningkat. Hanya ada 2 provinsi saja yang masih bebas Flu Burung yaitu Gorontalo dan Maluku Utara. Kejadian Luar Biasa (KLB) Flu Burung pada unggas masih terjadi secara sporadik di berbagai daerah. Kementrian Kesehatan menyebutkan, jumlah kasus flu burung pada manusia ditemukan pada 13 provinsi, dan sampai saat ini 161 orang positif, 134 orang diantaranya meninggal, dengan CFR (case fatality rate) sebesar 82,2%. Selain Indonesia, flu burung pada manusia sudah dideteksi di banyak negara yaitu Azerbaijan, Bangladesh, Kambodia, China, Djibouti, Mesir, Iraq, Laos, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Thailand, Turki dan Vietnam. Masalah flu burung adalah masalah global. Tidak hanya karena sudah terjadi pandemi flu burung pada unggas di banyak negara di Asia, Eropa dan Afrika tetapi juga karena kemungkinan muncul pandemi influenza pada manusia. Pandemi akan terjadi apabila virus H5N1 unggas bermutasi adaptif atau percampuran genetik ”reassortment” menjadi virus manusia baru yang dapat menular antar manusia dengan cepat, mudah serta menyebabkan banyak kematian, ujarnya. Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus Influenza A sub tipe H5N1 merupakan penyakit yang relatif baru karena itu memerlukan kajian dan penelitian dari berbagai ahli disiplin ilmu seperti epidemiologi, klinis, diagnostik, imunologi dan virologi. Indonesia sudah mempunyai 10 Rencana Strategis Nasional Pengendalian Avian Influenza dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza yaitu pengendalian penyakit pada hewan, penatalaksanaan kasus pada manusia, perlindungan kelompok resiko tinggi, surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia. Disamping restrukturisasi sistem industri perunggasan, komunikasi risiko, eduksi dan peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan dukungan peraturan, peningkatan kapasitas (capacity building), penelitian kaji tindak serta monitoring dan evaluasi. Untuk melaksanakan rencana tersebut telah dilakukan beberapa kegiatan yaitu mengembangkan 8 laboratorium diagnostik regional dan mengembangkan laboratorium Badan Litbangkes menjadi BSL-3 (Bio Safety Level 3) sehingga bisa memeriksa virus hidup. Meneruskan sosialisasi kebijakan dan Intensifikasi penatalaksanaan kasus serta kecepatan rujukan kasus. Memperkuat Early Warning System (deteksi dini) dan Surveilans. Melengkapi alat - alat perawatan intensif di 100 rumah sakit rujukan. Mengintensifkan komunikasi risiko dalam membangun kesadaran seluruh lapisan Masyarakat. Mengembangkan Desa Siaga di bidang kesehatan termasuk pencegahan dan penanggulangan flu burung. Mengembangkan “Pilot Project” Pencegahan dan Penanggulangan flu burung di Tangerang sebagai model, bekerja sama dengan pemerintah Singapura. Memperkuat koordinasi lintas sektor terutama dengan Kementerian Pertanian yang kompeten dalam penanganan sumber infeksi pada unggas/hewan. Di DKI Jakarta dan Banten sudah ada pelarangan adanya “backyard farm” di wilayah pemukiman penduduk. “Diharapkan provinsi lain yang sudah ditemukan penderita flu burung pada manusia akan segera mengikuiti jejak langkah kedua provinsi ini yang selanjutnya meluas keseluruh provinsi di Indonesia. Serta penelitian epidemiologi, klinis, lingkungan dan virologis," kata Menkes.(T. Jul/toeb)
|
|