Jakarta, 10/3/2010 (Kominfo-Newsroom) - Peningkatan produksi beras di kawasan Asia akan mencapai 50 persen atau setara dengan 50 juta ton beras untuk mencukupi kebutuhan pangannya pada 20 tahun mendatang, hal itu akibat terjadinya pertambahan penduduk sebesar 1,4 miliar jiwa pada tahun 2030, yang sebagian besar besar terjadi di benua Asia.
Dengan kenyataan di masa depan seperti itu, menjadi tantangan bagi Indonesia sebagai sebuah negara agraris untuk melipatkangandakan produksi beras, meskipun di sisi lain, luas lahan pertanian semakin berkurang karena pesatnya pembangunan.
“Artinya, diperlukan teknologi mutakhir, benih yang berkualitas, dan upaya perlindungan pertanian untuk mengurangi kehilangan hasil dan penurunan produktivitas,” kata Presdir PT Syngenta Indonesia, Arshad Saeed Husain, pada acara Ekspo Teknologi Syngenta bertema “Gerakan Peningkatan Produktivitas Padi” di Balai Besar Penelitian Padi, Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu (10/3).
Ia mengatakan bahwa beras merupakan bagian integral dari makanan pokok di Indonesia, dan setengah dari kalori yang dikonsumsi oleh penduduk di Asia. Hal ini, katanya, menjadi salah satu hal yang terpenting untuk tantangan kecukupan pangan tahun 2010 ini.
Menurut Arshad, untuk melindungi produk-produk tanaman, pemerintah Indonesia sebaiknya mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu, di antaranya adalah mengurangi pemakaian pestisida yang selama ini terlalu banyak digunakan oleh petani.
“Kami mendukung program pemerintah untuk beralih ke pertanian organik atau mengurangi penggunaan pupuk kimia dalam rangka menjaga kesuburan dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Indonesia,” katanya.
Sedangkan untuk jangka panjang, katanya, berbagai varietas baru harus diciptakan, seperti tahan terhadap kekeringan, memiliki salinitas tinggi, dan tahan hama penyakit tanaman lainnya.
Mengenai harga beras dunia, ia mencatat pada awal tahun 2008 lalu harga beras telah naik cukup tinggi sehingga menyebabkan demonstrasi dan kerusuhan di 29 negara di dunia.
“Namun pada tahun 2010 ini, harga beras telah kembali ke tingkat normal, meskipun sesungguhnya masih tetap tinggi atau tidak akan turun seperti harga sebelumnya,” katanya.
Sementara itu di tempat sama, Manajer Penjualan Nasiona PT Syngenta Indonesia, Andre Sumalong mengatakan, ke depan pemerintah diharapkan memiliki peraturan-peraturan yang lebih maju untuk mengurangi berbagai dampak yang berlebih dari penggunaan pestisida di kalangan petani.
Perusahaannya, katanya, merupakan perusahaan sarana produksi pertanian, dan telah mengalokasikan dana sebesar Rp 25 miliar untuk membiayai penelitian dan mengembangkan produk pestisida yang aman dan ramah lingkungan.
Dana sebesar itu, katanya, untuk mengupayakan solusi produk perlindungan dan pengendalian hama yang tidak beracun dan tidak mengganggu lingkungan ekologis.
”Tim research and development mengalokasikan dana Rp 25 miliar untuk menemukan jenis pestisida yang hanya perlu digunakan ketika perlu,” katanya.
Andre mengakui bahwa pihaknya ikut mendorong program pemerintah dalam mengurangi penggunaan pestisida pada tanaman dan pupuk kimia pada pertanian. Menurutnya, penggunaan pestisida yang dianjurkan Syngenta maksimal hanya 100 cc per hektare (ha).
”Ini hanya sepertiga dari pemakaian cara lama yang mencapai 3 liter per ha,” katanya. Perusahaan ini juga tengah membuat pelatihan untuk membantu petani menggunakan pestisida dengan wajar dan sesuai dengan ketentuan.
”Kami menemukan sejumlah produk organik yang positif untuk kebutuhan petani dan sesuai dengan program pemerintah,” katanya.
Program pemerintah untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, lanjut Andre, tidak akan mengancam bisnis PT Syngenta Indonesia, meskipun sejak tahun 2009 penggunaan pestisida oleh petani terus menurun. Pihaknya optimistis dengan target pasar produk perlindungan tanaman tahun ini yang dipatok sebesar Rp 3 triliun.
”Target pasar ini meningkat sebesar tiga persen hingga lima persen, meskipun penggunaan pestisida pada tahun 2009 sempat menurun akibat musim kemarau berkepanjangan,” kata Andre. (T.Bhr/ysoel)